Puteri Merak dan Puteri Cendrawasih

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Pada jaman dahulu kala, di sebuah kerajaan kecil di Pulau Perak. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang memiliki dua orang Puteri, yang satu bernama “Puteri Merak” dan Satunya bernama “Puteri Cendrawasih”.

Seperti nama dua burung  yang indah, kedua puteri ini memang adalah wanita tercantik di kerjaan kecil itu. Dan tentu saja sang raja sangat mencintai kedua Puterinya, namun karena si sulung “Puteri Merak” adalah pewaris mahkota, maka raja kelihatan lebih mencintai Puterinya itu dibandingan dengan adiknya “Puteri Cendrawasih”.

Di pulau tersebut, ada sebuah lembah, yang dinamakan oleh  masyakarat sebagai Lembah Berbicara. Setiap rakyat kerap berpegian ke lembah tersebut untuk menanyakan nasib hidup mereka dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya. Lembah ini, diyakini oleh penduduk kerjaan itu, sebagai lembah bersuara yang jujur.

Pada suatu hari, Puteri Merak  mendatangi Lembah Berbicara  itu dan mengajukan pertanyan.

“Lembah Berbicara, apakah saya adalah wanita tercantik di  seluruh dunia ?”

Jawab Lembah Berbicara, “maaf bukan anda wanita  tercantik di  dunia !”

“Lalu siapa?”, Tanya Puteri Merak

Jawab Lembah Berbicara, “Puteri Cendrawasih.”

Mendengar jawaban Lembah Berbicara, Sang Puteri Merak, pulang  ke kerajaan dalam keadaan kecewa dan marah. Dia berbaring di tempat tidur, dan memikirkan hal tersebut. Diapun bersumpah, tidak akan bangun sebelum mendapatkan jantung dan hati  Puteri Cendrawasih  untuk dimakan.

Saat malam pada saat raja pulang dari perjalanan jauh, dia mendapati puteri kesayangannya dalam keadaan sakit. Sang Raja pun bertanya apa yang salah dan menyebabkan dirinya sakit.

“Ayahanda hanya ada satu hal yang dapat menyembuhkan saya”,  kata Puteri Merak

“Apapun itu?, saya akan akan mengusahakannya dengan nyawa saya, karena kamu adalah Puteri ayah yang paling ayah cintai. Sebutkan saja.!”, kata Raja  kepada Puteri kesayanganya.

“Jika saya mendapatkan jantung dan hati Puteri Cendrawasih dan memakanya, saya akan sembuh dari penyakit saya ini, kalau tidak saya tidak akan pernah sembuh.”, jawab puteri Merak kepada Raja

Setelah kejadian itu sang Raja, berpikir keras, bagaimana mungkin hal itu  dilakukannya, sedangkan Puteri Cendrawasih juga adalah puterinya.

Setiap hari, Raja menjadi gusar dan tidak bisa tidur. Namun beberapa waktu berselang, datanglah seorang Pangeran dari kerajaan lain yang tersohor juga.

Pangeran tersebut ingin melamar Puteri Cendrawasih menjadi istrinya. “Kebetulan”, pikir sang raja. Tanpa mempertimbangkan, sang Raja langsung memenuhi permintaan pangeran  tampan itu, dengan syarat agar secepatnya meninggalkan kerajaanya.

Setelah mereka meninggalkan kerajaan, kemudian raja segera mengutus pengawal pribadinya untuk pergi ke sebuah bukit untuk menyembelih seekor kambing, dan mengambil hati dan jantungnya  untuk diberikan kepada Puteri Merak, anak sulungnya.

Dan ternyata memang benar, tanpa bisa membedakan jantung dan hati manusia, sang Puteri Merak yang berpura-pura sakit itu, langsung bangkit, merasa sehat dan berbahagia karena adiknya telah  disingkirkan.

Setahun telah terlewati, sejak kepergian Puteri  Cendrawasih. Puteri Merak pun bermaksud mendatangi Lembah Berbicara untuk mengajukan  pertanyaannya.

“Wahai Lembah Berbicara yang jujur” katanya, “bukankah aku ini  adalah wanita yang paling cantik di dunia?”

“Maaf, bukan anda” Terdengar suara dari lembah itu.

“Lalu siapa?”

“Puteri Cendrawasih.” Terdengar kembali suara dari lembah  itu.

“Tidak mungkin, Puteri Cendrawasih telah mati, dan saya  telah memakan jantung dan hatinya.”

“Dia tidak mati. Namun dia menikah dengan seorang pangeran tampan dari sebuah kerjaan besar di luar negeri.”

Puteri Merak pun segera pulang ke kerajaannya, dan memohon raja untuk menyiapkan beberapa kapal perang dan berkata, “Aku akan melihat adiku tersayang, Puteri Cendrawasih, karena begitu lama sejak tidak melihatnya, dan saya rindu bertemu dengannya.” Kapal-kapal perang milik kerajaanpun langsung dipersiapkan dan malam hari itu juga mereka pergi ke kerajaan besar yang sudah diketahuinya.

Dengan arahan dan kepemimpinannya, dia membawa semua kapal  dengan baik, sehingga tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah pulau dengan kerjaan besar yang juga cukup tersohor. Kerajaan inilah yang menurut Puteri Merak, tinggal Puteri Cendrawasih bersama pangerannya.

Saat itu, sang pangeran suaminya, sedang berburu di perbukitan. Puteri Cendrawasih pun tahu kapal-kapal perang ayahnya telah bersandar di pesisir pulau kerajaan suaminya

“Oh!” katanya kepada para pelayan, “Kakak ku akan datang,  dan dia akan membunuhku.”

“Dia tidak akan membunuh anda sama sekali, kami akan  mengunci anda di sebuah ruangan di mana kakak anda tidak dapat menemui anda.” Kata para  pelayan menghibur hatinya.

Ketika Puteri Merak, mulai berjalan menuju ibu kota kerajaan itu, dia mulai berteriak, “Ayo datanglah bertemu dengan kakakmu Cendrawasih, sudah cukup lama aku rindu bertemu denganmu.” kata Puteri Merak.

Tak lama kemudian dia mendapati  bahwa adiknya itu, terkunci dalam sebuah ruangan, dan dia tidak bisa keluar dari sana.

“Apakah kamu tidak rindu padaku Cendrawasih?” kata Puteri  Merak, “Julurkan kelingking anda melalui lubang kunci, dan biarkan aku memberikan ciuman  untuk itu”

Puteri Cenderwasih pun menjulurkan jari kecilnya, dan dengan akal liciknya Puteri Merak menusuk jarum beracun ke jari adiknya, seketika itu pula Puteri Cendrawasih langsung terkena racun berbahaya dan langsung mati.

Ketika sang pangeran pulang, dan menemukan Puteri Cendrawasih tewas, Dia sangat bersedih, dan ketika ia melihat betapa cantik dan rupawan istrinya, dia tidak menguburkannya sama sekali, tapi ia menempatkan jasadnya di sebuah ruangan di mana tak seorang pun dapat mendekatinya.

Dalam perjalanan waktu, sang pangeran menikah lagi. Seluruh  ruangan bagian dari rumah kerajaannya boleh dimasuki oleh siapa saja, namun satu ruangan, tetap selalu dikuncinya dan menjauhkan siapa saja dari kamar tersebut.

Namun pada suatu  hari, ketika sang pangeran berpergian, dia lupa untuk membawa kunci kamar tersebut. Karena penasaran istri keduanya  akhirnya mengambil kunci ruangan itu, dan dapat  memasukinya. Apa yang dilihatnya adalah seorang wanita paling cantik yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Diapun  mulai memeriksa tubuh Puteri Cendrawasih dan didapatinya sebuah jarum beracun menusuk jari Puteri Cendrawasih. Segara dia mencabut jarum tersebut, dan tanpa disadari seketika itu juga Puteri Cendrawasih kembali sadar dan hidup kembali.

Pada musim gugur, dimalam hari pangeran itu pulang dari perjalanan berburunya, ia nampak sedih dan tidak bergairah.

“Apa yang dapat saya lakukan, suamiku, sehingga dapat  membuat anda dapat ceria dan tertawa lagi?” kata istrinya,

“Ohh tidak ada yang dapat dilakukan,! Tidak ada yang bisa membuat saya tertawa, kecuali Puteri Cenderwasih dapat dihidupkan kembali.”. Kata sang  pangeran.“Nah, suamiku apa yang anda inginkan dapat anda temui hidup-hidup di sana, di ruangan itu.”

Ketika pangeran melihat Puteri Cendrawasih hidup kembali, ia membuat  pesta besar. Terlihat pangeran sangat bahagia dan dapat tertawa kembali. Dia merasa bahagia dengan kedua istri yang dicintainya, terutama Puteri Cendrawasih.

Pada akhir tahun, kembali lagi Puteri Merak pergi ke Lembah  Berbicara  seperti biasanya,.

“Hai Lembah Berbicara yang jujur,” katanya, “bukankah aku ini  wanita yang paling cantik di dunia?”  ”Maaf, bukan ada!”  “Lalu siapa?”  ”Puteri Cendrawasih adik anda.”

“Tidak mungkin,! Dia tidak mungkin dapat hidup kembali.  Sudah satu tahun lamanya saya menusuk jarum beracun ke jarinya.”

“Tapi memang dia hidup ! dia tidak mati sama sekali,.” Suara Lembah Berbicara itu bergema.

Puteri Merak, pulang, dan kembali memohon raja untuk mempersiapkan kapal perangnya, Dengan alasan yang sama, bahwa dia rindu bertemu dengan adik perempuanya, Puteri Cendrawasih. Pada malam itu juga, kapal-kapal perang diberangkatan dibawah komando Puteri Merak. Keesokan harinya, mereka tiba di pulau Kerajaan Tersohor itu.

Seperti biasa, sang pangeran tidak berada di tempat, karena sering berpergian menyalurkan hobbinya berburu di daerah perbukitan.

Kedatangan Puteri Merak, langsung diketahui oleh Puteri Cendrawasih, dengan melihat berberapa kapal ayahnya telah  merapat di dermaga.

“Oh!” katanya, ” kakak saya akan datang, dan dia akan  membunuhku seperti yang telah dilakukan setahun yang lalu, Saya harus bersembunyi” “Tidak sama sekali,” kata istri kedua, “kita akan pergi  untuk bertemu dengannya.” Puteri Merakpun datang menghampiri mereka ke daratan, di kota kerajaan tersebut.

“Turunlah, Cendrawasih tercinta,” katanya, “Kakakmu sendiri telah datang dan akan memberi minuman berharga untukmu.”

Kemudian Puteri Cendrawasih bersama istri kedua pangeran menghampiri Puteri Merak dan memperkenalkan  diri.

Sambil berkenalan, “Ini adalah kebiasaan di negeri ini,” kata istri kedua, “bahwa orang yang menawarkan minum harus meminumnya terlebih dahulu.”

Puteri Merakpun menyetujui adat setempat, dan meletakan cawan minuman ke mulutnya. Sambil berkata dalam hatinya “aku akan pura-pura  meminumnya”.  Namun tanpa disadarinya, seketika itu juga istri kedua memukul tenggorokan Puteri Merak,  sehingga sebagian minuman itu tertelan oleh puteri Merak. Karena sangat beracunnya minuman itu, Puteri Merakpun langsung mati saat itu juga.

Mayat Puteri Merak  kemudian dibawa pulang oleh pengikutnya untuk dimakamkan di negeri asalnya.

Sepeninggal Puteri Merak,  sang pangeran dan kedua istrinya hidup rukun dan bahagia, mereka menggabungkan kedua kerajaan dan membangunnya dengan damai dan makmur serta dicintai rakyatnya.