Barkaca Dari Sahabat

Ad Blocker Detected

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Penulis : Awanna Fikri Siregar

Orang – orang bilang, untuk apa hijrah sekarang kalau nantinya kita melakukan hal buruk lagi, lebih baik tunggu aja waktunya. Kata – kata itu pernah menjadi kata yang tersimpan di pikiranku selama ini.

Namaku Fikri, aku memiliki beberapa sahabat yang setiap hari selalu bertemu denganku, kami semua sering melakukan apapun yang kami suka tanpa menghiraukan aturan yang ada. Sahabatku Anna, seorang wanita cantik dan menyukai hal – hal yang menantang, dengan sifat yang seperti itu membuat aku merasa tertarik padanya dan aku sering bercerita dengannya ketika aku mendapatkan masalah.

Sahabatku selanjutnya adalah Regi, lelaki pendiam namun ia selalu ingin mencapai semua yang ia inginkan, dan aku menyebutnya “ si woles”, Regi berbeda kelas dengan kami bertiga. Dan sabahatku yang terakhir adalah Iwan. Orang yang kasar, keras kepala, namun ia sangat setia pada sahabat.

Itulah sahabatku yang setiap hari bersamaku melakukan hal – hal apapun yang kami suka. Mungkin kalian berpikir aku hanya punya tiga orang teman, dan memang aku hanya punya mereka, dan aku menganggap orang
lain hanya menggangguku saja.

Ketika pulang sekolah, saatnya kami berkumpul di markas besar kami di dekat terminal kota yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi, tempat yang nyaman, sangat strategis dan membuat kami bebas melakukan apapun. Cerita ini dimulai dari sebuah ide yang disampaikan oleh Regi. Regi mengajak kami semua untuk pergi berlibur ke salah satu tempat wisata air terjun yang berada di kota kami yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah kami, dan secara spontan kami semua langsung menyetujui hal itu.

Perjalanan ke air terjun akan kami lakukan pada hari Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WIB dan berencana untuk menggunakan kendaraan bermotor, dan kemudian secara cepat Anna langsung berkata, “Yesss…aku sama kamu ya Fikri, aku tidak mau sama Regi, nanti kita terlalu lama di jalan, apalagi sama Iwan, aku takut….” Dan aku hanya bisa bilang “ iya Anna”. Pada hari Rabu ketika di sekolah, aku diajak oleh Latif salah satu orang dikelasku untuk menghadiri kegiatan ROHIS di sekolah lain pada hari Minggu, tanpa berpikir panjang aku langsung menolak untuk ikut kegiatan tersebut, karena aku tidak suka hal – hal yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan dan pastinya acara itu akan merusak rencana kami untuk berlibur.

Ketika di sekolah, saat kami sedang duduk bersama di kantin, kami tidak melihat Regi dan kemudian kami berusaha menghubunginya tetapi hasilnya nihil. Dari kantin kami melihat keramaian di kelas Regi, kemudian kami langsung
menuju kesana dan melihat apa yang terjadi, dan ternyata Regi mendapat masalah besar. Regi ketahuan mencuri uang kas kelas sejumlah enam ratus dua puluh lima ribu rupiah, dan pada saat itu juga Regi langsung dipanggil oleh kepala sekolah, dan ternyata hasilnya adalah Regi dikeluarkan dari sekolah. Saat pulang sekolah Aku, Anna dan Iwan
langsung ke rumah Regi dan kami bertanya apa penyebab ia mencuri, Regi menjawab

“saat kalian merencanakan ingin pergi berlibur ke air terjun, sebenarnya aku ingin menolaknya karena aku tidak punya uang, tetapi karena aku ingin pergi bersama kalian jadi aku terpaksa mencuri”.

Tentunya kejadian ini membuat orang tua Regi kecewa dan membuat kami merasa sedih. Dan kemudian Regi bercerita bahwa ia tidak akan melanjutkan sekolahnya dan memilih untuk berkerja di kota lain sebagai buruh pabrik dan ia akan pergi ke kota tersebut pada hari Kamis, dan tentunya Regi tidak akan ikut bersama kami untuk liburan.

Pada hari Kamis, Aku dan Iwan tidak melihat Anna datang ke sekolah, dan kami berdua tidak tahu alasan kenapa Anna tidak datang. Setelah pulang sekolah, Aku dan Iwan langsung pergi ke rumah Anna, sesampainya di sana kami melihat rumah Anna seperti tidak ada orang sama sekali.

Kemudian tetangga Anna berkata bahwa Anna sedang dirawat di rumah sakit karena penyaki jantung yang dideritanya. Aku dan Iwan merasa terkejut karena selama ini kami tidak mengetahui bahwa Anna memiliki riwayat penyakit jantung. Kami langsung pergi ke rumah sakit tempat Anna dirawat dan disana kami melihat Anna masih dalam keadaan lemas dan tertidur.

Saat berada disana aku mulai berpikir apakah aku juga akan mendapatkan teguran dari Allah, karena aku sudah melihat dua sahabatku mendapatkan musibah. Dan sepertinya acara liburan kami akan kami dibatalkan.

Pada Jum’at malam Aku dan Iwan berencana untuk melihat kondisi Anna di rumah sakit, sebelum pergi Iwan bermaksud untuk mengisi bahan bakar kendaraan terlebih dahulu dan aku menunggunya di rumah.

Setelah lebih dari satu jam aku menunggu, Iwan tidak memberikan kabar apapun, namun setelah itu ternyata terjadi kecelakaan di dekat tempat pengisian bahan bakar, aku berpikir bahwa yang mengalami kecelakaan adalah Iwan, tetapi aku tidak mau menduga – duga, dan aku mendengar bahwa salah satu dari korban kecelakaan meninggal dunia, akupun semakin takut dan cemas.

Karena rasa penasaran akhirnya aku memutuskan untuk pergi melihat kesana, dan ternyata disana aku telah melihat sahabatku sudah tidak sadarkan diri dan sudah di tutup dengan kain seluruh tubuhnya. Karena melihat sahabatku seperti itu aku tidak tahan untuk berada disana, aku bergegas pulang dan kemudian masuk ke kamar.

Dan aku kembali berpikir, akankah semua yang terjadi pada sahabatku akan terjadi padaku, apakah karena semua kesalahan dan dosa yang kami perbuat kami, mendapatkan musibah ini, dalam hati akuberkata “ Aku takut…aku sudah kehilangan sahabatku, dan akankah aku juga akan kehilangan diriku sendiri”.

Pada hari sabtu, aku kembali kesekolah dan aku tidak lagi melihat satupun sahabatku yang selama ini selalu bersamaku, aku merasa kesepian dan terlihat seperti orang yang bingung. Aku berpikir aku akan terus sendiri, namun ternyata satu persatu orang – orang yang berada di kelas mulai mendekatiku dan kemudian mengajakku untuk melakukan hal baik. Sekitar pukul 09.15 WIB, salah satu orang yang sekarang mungkin bisa aku sebut sebagai teman, ia adalah Latif, ia mengajakku untuk sholat dhuha.

Awalnya aku bingung, aku ingin menolak, namun aku sudah sering menyakiti hati semua teman – teman disekitarku, dengan penuh pertimbangan akhirnya aku menerima tawaran dari Latif. Setelah sholat aku berpikir lagi, “ yang wajib saja aku sering melalaikannya, namun hari ini aku malakukan yang Sunnah, apakah ini bisa menjadi awal baik untukku…?, apakah aku bisa berubah menjadi orang baik…?. Kemudian aku bertanya pada Latif,

“ Latif apakah taubatku akan diterima oleh Allah…?, kemudian Latif menjawab,

“ pasti sahabatku, Allah selalu menerima taubat dari hamba – hambanya “, mendengar hal itu, aku langsung menangis dan memeluk erat Latif yang selama ini tidak aku anggap sebagai teman, tetapi ia memanggilku dengan sebutan “sahabat”.

Pada hari minggu, aku mengawali hariku dengan sholat subuh berjama’ah di masjid, bahkan aku sampai lupa kapan terakhir kalinya aku ke masjid, dan di saat itu aku benar – benar marasakan betapa bersyukurnya aku masih bisa merasakan nikmat yang diberikan oleh Allah.

Dan selesai sholat aku teringat akan rencana liburan yang harusnya kami laksanakan pada hari ini, aku teringat dengan semua sahabatku, di dalam sholatku, aku mendoakan mereka, aku berharap dapat bertemu lagi dengan mereka, dan aku ingin mereka bisa merasakan hijrah yang sesungguhnya. Dan rencana liburanku dengan
sahabat lamaku aku ganti dengan mengikuti kegiatan ROHIS bersama latif.

Sungguh rencana yang sebelumnya aku hiraukan, kini aku laksanakan. Rasanya aku sudah kembali ke jalan yang benar, dan aku bersyukur Allah tidak memberikan musibah seperti yang dialami para sahabatku. Hari – hari aku jalani dengan penuh kebaikan, aku tidak lagi melakukan hal – hal yang dilarang orang agama, sungguh sekarang aku sangat menikmati perubahan ini.

Semua yang aku alami berjalan begitu lancar, hingga pada saatnya saat aku mulai yakin akan perubahanku ini, Allah memberikan cobaan padaku. Di pagi hari saat aku ingin pergi ke sekolah, secara tiba – tiba aku mengalami kecelakaan akibat aku terlalu terburu – buru dan ditambah dengan kondisi cuaca yang sedikit hujan.

Awalnya aku berpikir tidak akan terjadi apa – apa denganku, namun ternyata, aku mengalami patah tulang dibagian kaki kiriku. Aku dirawat selama lebih dari dua bulan, dengan kondisi tidak dapat berdiri dan melakukan semuanya di tempat tidur dibantu oleh orang tuaku.

Pada saat itu aku merenungi diriku sendiri “ mengapa disaat aku sudah menjadi orang baik, Allah memberikan cobaan untukku, aku pikir orang baik tidak akan mendapatkan cobaan yang berat, namun aku sadar, ini semua pasti ada hikmahnya”.

Setelah aku bisa berdiri, aku kembali untuk melaksanakan sholat berjama’ah seperti biasa, namun disini aku sering mengalami masalah pada kaki kiriku, saat aku berdiri, kaki kiriku terasa sakit, namun karena ini adalah kewajiban, maka aku tetap melaksankannya dengan sungguh – sungguh.

Ternyata hijrah yang sesungguhnya menghampiriku membuat perubahan yang sangat luar biasa, dan dulu aku telah menghilangkan kesempatan untuk menikmati menjalakankan kewajibanku sebagai seorang muslim dengan kondisi yang sangat baik, namun sekarang aku sudah tidak lagi memiliki kondisi yang sama dengan saat itu.

Tetapi aku bersyukur masih bisa menikmati semua yang Allah berikan kepadaku. Sampailah pada saat yang aku tunggu – tunggu, yaitu pengumuman kelulusan di perguruan tinggi, dan ternyata aku berhasil lulus di perguruan tinggi yang aku inginkan, sungguh ini adalah buah manis dari hijrah yang aku lakukan.

Bukan hanya itu, aku juga mendengar bahwa Anna sudah kembali sehat dan melanjutkan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi islam jurusan Bahasa arab dan aku mendengar sekarang ia sudah berhijab dan hijrah. Dan sahabatku Regi, kini dia sudah memiliki uang yang cukup, dan aku dengar sekarang ia sering ikut serta dalam kegiatan keislaman dan berdakwah. Dan terakhir untuk sahabat kami Iwan, mungkin sekarang ia sedang tersenyum bahagia melihat kami sudah berhijrah.

Aku ingin berpesan, Allah mungkin menunjukkan kepada kita sesungguhnya masih ada kesempatan untuk bertaubat, melalui sahabat – sahabatku aku sadar akan kesalahan yang selama ini aku lakukan. Sebenarnya kita tahu kematian itu pasti, tetapi kita tidak tahu kapan kematian itu menghampiri kita. Maka dari itu aku ingin diriku dan semua sahabat muslim tetap berada pada jalan hijrah ini.